![]() |
| Foto: Salah satu ruas jalan di RTA Milono yang mulai terkepung oleh asap karhutla, Senin (27/7/2026). |
Palangka Raya, Persadakalteng.com — Kabut asap mulai terlihat di sejumlah ruas jalan di Kota Palangka Raya pada Senin (27/7/2026) pagi, seiring meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah setempat.
Pantauan di lapangan menunjukkan kabut asap tampak jelas di ruas Jalan RTA Milono, terutama mulai dari Bundaran Burung hingga Bundaran Besar. Sejumlah mobil patroli instansi terkait juga tampak hilir mudik bersama personel dan peralatan pemantauan di beberapa titik.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat sejak penetapan Status Siaga Darurat Karhutla pada 1 Juni 2026, telah terjadi 90 kejadian karhutla dengan total lahan terdampak mencapai 37,42 hektare.
Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi, mengatakan sebaran kejadian masih didominasi wilayah Kecamatan Jekan Raya dengan 61 kejadian. Disusul Kecamatan Sebangau 15 kejadian, Pahandut 11 kejadian, dan Bukit Batu 3 kejadian. Sementara itu, Kecamatan Rakumpit belum mencatat adanya kejadian karhutla.
Menurut Budi, kondisi cuaca yang semakin kering dan berkurangnya intensitas hujan membuat potensi karhutla meningkat. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya titik api, termasuk membuka lahan dengan cara membakar.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas lain yang dapat memicu kebakaran. Pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menekan terjadinya karhutla,” ujarnya, Jumat (24/7/2026) di Palangka Raya.
Ia menambahkan, BPBD bersama TNI, Polri, Manggala Agni, pihak kecamatan, kelurahan, dan relawan terus melakukan patroli, pemantauan wilayah rawan, serta sosialisasi kepada masyarakat. Langkah itu dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas dan meminimalkan dampak kabut asap.
Budi juga meminta warga segera melapor apabila melihat titik api atau aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Menurutnya, penanganan sejak dini sangat penting agar api tidak berkembang lebih besar.
“Penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi semua pihak. Dengan kepedulian dan partisipasi masyarakat, kita optimistis kejadian karhutla dapat ditekan sehingga lingkungan tetap terjaga dan masyarakat terhindar dari dampak kabut asap,” pungkasnya. (red)
