![]() |
| Foto: Tangkapan layar secara daring Plt. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalteng, Muhammad Reza Prabowo bersama para siswa. |
Palangka Raya, Persadakalteng.com – Antusiasme tinggi ditunjukkan peserta didik SMA dan SMK se-Kalimantan Tengah dalam mengikuti Webinar Persiapan UTBK 2026 yang digelar Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, Kamis (5/2/2026).
Webinar ini menghadirkan Rafif Laksana sebagai narasumber utama, mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang berhasil lolos melalui jalur UTBK dengan capaian skor Penalaran Matematika 870 atau berada di kisaran top 0,1 persen nasional.
Selain dikenal berprestasi secara akademik, Rafif juga aktif sebagai influencer edukasi yang membagikan materi UTBK secara gratis melalui berbagai platform digital.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, Muhammad Reza Prabowo, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Rafif yang dinilai mampu menjadi inspirasi nyata bagi siswa, khususnya di daerah pelosok.
Ia menilai kehadiran narasumber secara daring melalui dukungan teknologi pendidikan menjadi bukti bahwa digitalisasi mampu menghadirkan akses pembelajaran berkualitas secara merata.
“Tidak ada siswa yang bodoh, yang ada hanya siswa yang belum tahu harus menyiapkan apa,” katanya mengutip pesan yang disampaikan Rafif.
Reza juga mengungkapkan bahwa saat ini pembelajaran di Kalimantan Tengah terus berkembang melalui pemanfaatan teknologi, termasuk penggunaan papan tulis pintar dan TV interaktif di sekolah.
Ia menyebut siswa di Kalimantan Tengah kini juga didorong untuk mempelajari berbagai bahasa asing sesuai minat, seperti Inggris, Jepang, Jerman, Korea, Perancis, Mandarin, hingga Arab sebagai bekal menghadapi persaingan global.
Menurutnya, tingginya partisipasi siswa SMK dalam webinar ini menunjukkan perubahan pola pikir, di mana lulusan SMK tidak hanya berorientasi kerja, tetapi juga memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak siswa Kalimantan Tengah yang termotivasi untuk meraih prestasi dan menembus perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
Sementara itu Rafif Laksana memulai paparannya dengan menceritakan perjalanan pribadinya. Ia mengaku bukan siswa yang menonjol saat SMA, bahkan kerap mengikuti kelas remedial karena nilai yang kurang memuaskan.
Namun, berkat perubahan cara belajar, dukungan keluarga, dan kedisiplinan, ia berhasil menembus UGM melalui UTBK dan meraih berbagai prestasi akademik maupun non akademik.
Rafif juga membagikan kisahnya sebagai juara lomba debat bahasa Inggris tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung, serta pengalamannya di bidang olahraga. Ia mendorong siswa untuk tidak takut gagal dan tidak terjebak rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO) ketika melihat keberhasilan orang lain. (red)
